Cell life

Juli 2, 2007

Tukang Batu

Diarsipkan di bawah: storry telling — Cell @ 4:29 pm

Tukang Batu

Tukang batu itu kelelahan dan kepanasan. dengan sekuat tenaga ia mengayunkan kapaknya memecah gunung batu.
Matahari tak ramah bahkan dengan kejamnya malah bersinar tambah terik. keringat mengucur membasahi pakaian.
tapi tukang batu tetap memukul dan memukul gunung batu hingga suatu saat kapaknya terpental dari tangannya
yang basah dan licin. dan sekerikil batu terpental melukai tangannya. ia kesakitan…
marah… menantang matahari dan berteriak,
“heh! matahari, apa km harus bersinar panas gitu. kenapa bukan aku aja yang jadi matahari.
kenapa aku mesti jadi tukang batu yang kepanasan, ini ngak adil!”
matahari mendengar teriakannya dan berkata, “mengapa kau berteriak, aku matahari, ini sudah tugasku untuk bersinar.
kalo kau mampu kau boleh jadi matahari menggantikanku.”
“baik, aku pasti jadi matahari yg lebih baik darimu serunya”
dan dia pun menjadi matahari yang bersinar seterik-teriknya dengan sombong hingga datang awan yang menutupinya,
dan mataharipun berteriak “heh, awan kenapa kau menutupiku? lebih baik aku jadi awan”.
dan iapun jadi awan. ketika sedang enak2nya berhembus lembut datang angin topan meniup awan.
“hei, angin kau lebih hebat dari awan, aku mau jadi angin”. dan iapun jadi angin bertiup keras meniup
segala yang ada. bertiuupp…. bertiup… dan bertiup terus hingga bertemu gunung batu yang tak bergeming
meskipun ditiup sekeras-kerasnya. “wah, jadi angin gak paling hebat toh, aku jadi gunung batu aja”. dan
jadilah ia gunung batu yang menjulang tinggi dengan sombongnya memandang kebawah dan berpikir,
“nah sekarang aku yang terhebat” dan tiba-tiba
“aduhh.. aduhh.. siapa yg memukuliku.. aduh.. aduh.. siapa yg lebih hebat dari gunung batu?”.
dan ia melihat seorang tukang batu. dan ia terhenyak dan akhirnya ia memilih kembali jadi tukang batu
dan ia bahagia menjadi tukang batu. dan ia tak pernah mengeluh lagi.

Juni 28, 2007

Tidur seranjang dengan suami orang

Diarsipkan di bawah: storry telling — Cell @ 8:43 am

Teman saya ini (katakanlah namanya Wati, 27 tahun) bekerja pada suatu perusahaan konsultan yang tidak terlalu besar sebagai asisten dari salah seorang partner pada perusahaan konsultan tersebut (kita sebut saja namanya Iwan).

Wati sangat mengagumi profil dan karakter Iwan. Sebut saja semua hal yang baik, maka Iwan memilikinya.

Otak yang cemerlang, sikap yang profesional dan gentleman, penampilan yang selalu rapi dan nice looking serta usia baru 36 tahun (waktu itu).

Singkat cerita Wati mulai “naksir” Iwan.

Ternyata Wati membiarkan perasaannya kepada Iwan tumbuh tanpa halangan. Semakin hari ia semakin jatuh hati kepada Iwan. Iwan bukannya tidak tahu akan hal itu tetapi sikapnya yang profesional di kantor yang tidak membiarkan hal-hal pribadi mencampuri urusan kantor membuat Wati semakin mengagumi pribadi Iwan.

Suatu hari urusan kantor membuat mereka berdua harus pergi ke beberapa kota di Jawa Tengah. DL (dinas kota) nich ceritanya…

Untuk memudahkan mobilisasi, mereka naik pesawat ke semarang dan menyewa mobil untuk melakukan perjalanan darat di sekitar Semarang, Magelang, Yogya dan Solo dalam rangka melakukan suatu survei khusus untuk kepentingan klien.

Entah bagaimana ceritanya mereka kemalaman dan menginap di sebuah hotel kecil.

Sebenarnya Iwan ingin memesan 2 kamar tetapi karena hanya tersisa 1 kamar ia meminta pendapat Wati. Karena memang sudah sangat lelah Wati setuju untuk sekamar dengan Iwan (sebenarnya Wati agak “sedikit senang” dengan kondisi darurat tersebut).

Karena tidak ber-ac, maka Iwan membuka jendela kamar.

Masalah lainnya kamar tersbut hanya memiliki 1 ranjang berukuran tanggung dan tidak memiliki kursi panjang.

Tidak mungkin bagi Wati untuk meminta Iwan tidur di lantai. Jadilah akhirnya mereka tidur seranjang setelah Iwan berjanji bahwa ia tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak.

Sebenarnya Wati tidak bisa tidur karena seranjang dengan Iwan. Sebagai seorang wanita jantungnya berdebar sangat kencang karena tidur serajang dengan pria sopan yang sangat dikaguminya.

Kaki mereka beberapa kali saling bersentuhan karena ranjangnya memang pas-pasan.

Setelah setengah jam, angin malam yang masuk lewat jendela membuat Wati merasa kedinginan sehingga ia memberanikan diri bertanya kepada Iwan:

“Mas Iwan, aku kedinginan nih. Boleh nggak minta tolong jendelanya ditutup saja?”

Iwan tidak langsung menjawab dan Wati berpikir Iwan sudah tertidur sehingga ia berkata lagi: “Mas Iwan…”

Kali ini Iwan langsung menjawab: “Wat, kamu kedinginan ya? MAUKAH KAMU MALAM INI KAMU BERTINDAK SEPERTI ISTERI SAYA?”

Jantung Wati serasa berhenti berdetak. Pikirannya langsung guncang mendengar pertanyaan Iwan. Dengan hati-hati ia bertanya: “Maksud mas Iwan?”

“Maksud saya…., jendelanya kamu tutup sendiri ya ?!”

heheehe… serius amat bacanya… ^^ pizz man!

Blog pada WordPress.com.